Pendidikan adalah suatu hal yang amat urgen dalam kehidupan umat
manusia secara umum, dan dalam kehidupan umat Islam secara khusus.
Oleh karena itu Syari’at Al Qur’an memberikan perhatian yang amat
besar, sampai-sampai ayat Al Qur’an yang pertama diturunkan adalah 5
ayat dalam surat Al ‘Alaq, yang memerintahkan umat manusia untuk
membaca dan belajar.
Bukan hanya itu, bahkan syari’at Al Qur’an telah menjelaskan bahwa
kahidupan manusia baik di dunia atau di akhirat tidaklah akan
menjadi baik melainkan dengan didukung oleh pendidikan yang baik dan
benar. Oleh karena itu seluruh mahluk yang ada di dunia ini
dinyatakan senantiasa mendoakan kebaikan kepada setiap orang yang
berjuang dengan mengajarkan kebaikan kepada umat manusia.
Mari kita renungkan bersama sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم berikut ini,
Oleh karena itu tidak heran bila di masyarakat kita perbuatan dusta merupakan hal yang amat lazim terjadi dan biasa dilakukan, karena semenjak dini mereka dilatih melakukan kedustaan dan kebohongan.
Diantara keistimewaan metode pendidikan dalam syari’at Al Qur’an ialah ditanamkannya nilai-nilai keimanan kepada Allah Ta’ala, rasa takut kepada-Nya, senantiasa tawakkal dan sadar serta yakin bahwa segala kebaikan dan juga segala kejelekan hanya Allah yang memiliki, tiada yang mampu mencelakakan atau memberi kemanfaatan kepada manusia tanpa izin dari Allah Ta’ala. Sehingga dengan menanamkan keimanan kepada Allah Ta’ala sejak dini semacam ini, menjadikan masyarakat muslim berjiwa besar, tangguh bak gunung yang menjulang tinggi ke langit, bersih jauh dari sifat-sifat kemunafikan, penakut, berkhianat, memancing di air keruh atau menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Kisah berikut adalah salah satu contoh nyata pendidikan Islam yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم kepada umatnya,
Pada suatu malam ada seorang wanita yang memerintahkan anak gadisnya untuk mencampurkan air ke dalam susu yang hendak ia jual, maka anak gadis tersebut menjawab dengan penuh keimanan, “Bukankah ibu telah mendengar bahwa Umar telah melarang kita dari perbuatan semacam ini?! Maka sang ibu pun menimpali dengan berkata, Sesungguhnya Umar tidak mengetahui perbuatanmu! Maka anak gadis tersebut menjawab dengan berkata, “Sungguh demi Allah aku tidak sudi untuk mentaati peraturan Umar hanya ketika di khalayak ramai, akan tetapi ketika aku sendirian aku melanggarnya.”
Kita semua bisa bayangkan bila prinsip-prinsip islamiyyah yang terkandung dalam hadits ini terwujud pada masyarakat kita, maka saya yakin bahwa masyarakat kita akan terhindar dari berbagai praktek-praktek pengecut, khianat, korupsi, penakut, putus asa dll.
Tentu pendidikan yang semacam ini menyelisihi pendidikan yang sekarang banyak dilakukan oleh masyarakat kita, dimana anak-anak kita sejak kecil senantiasa dihancurkan kejiwaannya, keberaniannya dengan berbagai dongeng tentang hantu, syetan, khayalan tentang superman, batman, satria baja hitam, atau yang serupa yang menggambarkan tentang manusia yang bisa terbang, merubah bentuk, dengan berbagai kedustaan yang ada pada kisah-kisah tersebut. Tidaklah mengherankan bila generasi yang dibina dan jiwanya dipenuhi dengan kisah-kisah palsu semacam ini, hanya pandai mengkhayal, dan mudah putus asa, penakut dan pemalas.
Mari kita renungkan bersama sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم berikut ini,
إن الله وملائكته وأهل السماوات والأرضين حتى النملة في جحرها وحتى
الحوت ليصلون على معلم الناس الخير
“Sesungguhnya Allah, seluruh Malaikat-Nya, seluruh penghuni
langit-langit dan bumi, sampaipun semut yang berada di dalam liangnya,
dan sampai pun ikan, senantiasa memuji dan mendoakan untuk orang yang
mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. At Tirmizi dan
dishahihkan oleh Al Albani)
Sebagaimana Syari’at Al Qur’an juga mengajarkan agar pendidikan yang
disampai kepada masyarakat senantiasa didasari oleh data yang
autentik dan kebenaran. Sebagai salah satu contoh nyata hal ini
ialah kisah berikut,
عن عبد الله بن عامر أنه قال: دعتني أمي يوما ورسول الله صلى الله عليه
و سلم قاعد في بيتنا فقالت: ها تعال أعطيك. فقال لها رسول الله صلى
الله عليه و سلم وما أردت أن تعطيه؟ قالت: أعطيه تمرا. فقال لها رسول
الله صلى الله عليه و سلم: أما إنك لو لم تعطيه شيئا كتبت عليك كذبة
“Dari sahabat Abdullah bin ‘Amir, ia menuturkan: Pada suatu hari ibuku
memanggilku, sedangkan Rasulullah صلی الله عليه
وسلم sedang duduk-duduk di rumah kami,
kemudian ibuku berkata, Hai nak, kemarilah, aku beri engkau sesuatu.
(Ketika mendengar perkataan ibuku itu) Rasulullah صلی
الله عليه وسلم
bersabda kepadanya, Apakah yang hendak engkau berikan kepadanya? Ibuku
menjawab, Aku hendak memberinya kurma, Lalu Rasulullah صلی
الله عليه وسلم
bersabda kepadanya, Ketahuilah sesungguhnya engkau bila tidak
memberinya sesuatu, maka ucapanmu ini niscaya dicatat sebagai satu
kedustaanmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqi dan dishahihkan oleh
Al Albani)
Demikianlah pendidikan dalam syari’at Al Qur’an, oleh karena itu
tidak mengherankan bila Nabi صلی الله عليه وسلم
menjadikan kedustaan sebagai salah satu kriteria orang-orang munafik.
آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا أؤتمن خان
“Pertanda orang-orang munafik ada tiga, bila ia berbicara ia berdusta,
bila ia berjanjia ia ingkar, bila diamanati ia berkhianat.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Bila kita bandingkan hadits ini dengan fenomena pendidikan yang ada
dimasyarakat kita, baik yang ada dalam keluarga, atau di masyarakat
atau di sekolah-sekolah, niscaya kita dapatkan perbedaan yang amat
besar. Pendidikan di masyarakat banyak yang disampaikan dengan
kedustaan dan kebohongan, misalnya melalui dongeng palsu, cerita
kerakyatan, cerita fiktif, sandiwara, film-film yang seluruh isinya
berdasarkan pada rekayasa dan kisah-kisah palsu dll.
Oleh karena itu tidak heran bila di masyarakat kita perbuatan dusta merupakan hal yang amat lazim terjadi dan biasa dilakukan, karena semenjak dini mereka dilatih melakukan kedustaan dan kebohongan.
Diantara keistimewaan metode pendidikan dalam syari’at Al Qur’an ialah ditanamkannya nilai-nilai keimanan kepada Allah Ta’ala, rasa takut kepada-Nya, senantiasa tawakkal dan sadar serta yakin bahwa segala kebaikan dan juga segala kejelekan hanya Allah yang memiliki, tiada yang mampu mencelakakan atau memberi kemanfaatan kepada manusia tanpa izin dari Allah Ta’ala. Sehingga dengan menanamkan keimanan kepada Allah Ta’ala sejak dini semacam ini, menjadikan masyarakat muslim berjiwa besar, tangguh bak gunung yang menjulang tinggi ke langit, bersih jauh dari sifat-sifat kemunafikan, penakut, berkhianat, memancing di air keruh atau menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Kisah berikut adalah salah satu contoh nyata pendidikan Islam yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم kepada umatnya,
عن بن عباس قال كنت خلف رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقال ثم يا
غلام إني أعلمك كلمات احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت
فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن
ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن
يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت
الصحف
“Dari sahabat Ibnu Abbas ia berkata, Suatu hari aku membonceng Nabi صلی
الله عليه وسلم,
maka beliau bersabda kepadaku, “Wahai nak, sesungguhnya aku akan
ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (syari’at) Allah, niscaya
Allah akan menjagamu, jagalah (syari’at) Allah, niscaya engkau akan
dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa dihadapanmu. Bila
engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau
memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol
untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat
memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan
untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu,
niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal
yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat taqdir) telah
diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Ahmad, dan At
Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani)
Dan berikut adalah salah satu contoh generasi yang telah tertanam
pada dirinya pendidikan Al Qur’an, yang senantiasa mengajarkan agar
setiap manusia senantiasa mengingat Allah, dan senantiasa sadar
bahwa Allah selalu melihat dan mendengar segala gerak dan geriknya.
Pada suatu malam ada seorang wanita yang memerintahkan anak gadisnya untuk mencampurkan air ke dalam susu yang hendak ia jual, maka anak gadis tersebut menjawab dengan penuh keimanan, “Bukankah ibu telah mendengar bahwa Umar telah melarang kita dari perbuatan semacam ini?! Maka sang ibu pun menimpali dengan berkata, Sesungguhnya Umar tidak mengetahui perbuatanmu! Maka anak gadis tersebut menjawab dengan berkata, “Sungguh demi Allah aku tidak sudi untuk mentaati peraturan Umar hanya ketika di khalayak ramai, akan tetapi ketika aku sendirian aku melanggarnya.”
Kita semua bisa bayangkan bila prinsip-prinsip islamiyyah yang terkandung dalam hadits ini terwujud pada masyarakat kita, maka saya yakin bahwa masyarakat kita akan terhindar dari berbagai praktek-praktek pengecut, khianat, korupsi, penakut, putus asa dll.
Tentu pendidikan yang semacam ini menyelisihi pendidikan yang sekarang banyak dilakukan oleh masyarakat kita, dimana anak-anak kita sejak kecil senantiasa dihancurkan kejiwaannya, keberaniannya dengan berbagai dongeng tentang hantu, syetan, khayalan tentang superman, batman, satria baja hitam, atau yang serupa yang menggambarkan tentang manusia yang bisa terbang, merubah bentuk, dengan berbagai kedustaan yang ada pada kisah-kisah tersebut. Tidaklah mengherankan bila generasi yang dibina dan jiwanya dipenuhi dengan kisah-kisah palsu semacam ini, hanya pandai mengkhayal, dan mudah putus asa, penakut dan pemalas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar